Tampilkan postingan dengan label Perlu Dibagikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perlu Dibagikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Desember 2008

Keluarga Kristen yang Diberkati Tuhan.

Efesus 5:22 – 6:4

Manusia tentunya ingin hidup berkeluarga dan berbahagia bukan?
Kita sebagai orang Kristen pasti mempunyai kerinduan akan kehidupan keluarga yang diberkati Tuhan bukan?

Berikut hal-hal yang Tuhan Yesus mau ada dalam keluarga kita:
1.Selalu mengucap syukur kepadaNya dan hidup saling merendahkan diri, saling melayani di dalam takut akan Kristus.
2.Istri harus tunduk kepada suami dalam segala hal, mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang. Jadi lakukan itu semua karena takut akan Tuhan, 1 Petrus 3:4 “tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.”
3.Suami harus mengasihi istri, hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.
Peranan suami dalam keluarga adalah sebagai pemimpin istri dan anaknya, mempersiapkan kebutuhan rohani dan jasmani keluarga. Jadikanlah keluarga sebagai fokus utama melebihi urusan yang lain, tiada artinya sibuk bekerja cari uang dan kaya, bahkan sibuk pelayanan tetapi keluarga sendiri terbengkalai tidak dilayani apa gunanya?
4.Anak-anak harus menghormati orang tua, (supaya berbahagia dan panjang umur di bumi), menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik
5.Suami-Istri (orang tua) jangan bangkitkan amarah anak dan didiklah anak di dalam ajaran dan kasih Tuhan Yesus. Sedini mungkin siapkan anak untuk didik di dalam Tuhan, tanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan benar di dalam Tuhan, jangan biarkan anak-anak tumbuh semaunya.

Apakah hidup keluarga kita sudah diberkati?

Jika belum merasa diberkati atau ingin lebih diberkati, mari kita belajar dan berjanji melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan sesuai peranan kita dalam keluarga.

Karakter Keluarga Kristen yang Dewasa

1 Korintus 13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

1.Jadikan rumah kita sebagai gereja
Artinya keluarga itu dibentuk atas dasar ajaran dan kasih akan Tuhan.
Matius 18:20 “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

2.Hidup dalam iman
Tetap bersandar sepenuhnya, percaya, tetap setia di dalam Tuhan, selalu bertumbuh.

3.Hidup dalam pengharapan
Artinya suatu kondisi yang tetap teguh, tetap konsisten, tetap pada komitmen bahwa Tuhan selalu ada untuk segala sesuatu yang terjadi di dalam keluarga.

4.Hidup dalam kasih.
Saling mengasihi, saling melayani satu sama lain sehingga hidup penuh kemesraan.

Mari kita bawa keluarga menjadi keluarga Kristen yang berkarakter.

Minggu, 30 November 2008

Tuhan Begitu Peduli Kepada Keluarga

Keluarga adalah lembaga yang paling utama dalam masyarakat, walaupun juga disebut lembaga terkecil dalam masyarakat.
Di mata Tuhanpun sebuah keluarga dipandang sangat berharga.

Mau bukti bahwa Tuhan begitu menghargai akan arti keluarga?
1.Tuhan sendirilah yang menciptakan keluarga itu.
Keluarga adalah suatu tujuan ilahi yang telah Tuhan rancang sedemikian rupa.
Kejadian 2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

2.Allah menyebut diriNya sebagai suami Israel.
Dalam Perjanjian Lama Yesaya 54:5 Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi.

3.Tuhan Yesus menyebut kita sebagai mempelai perempuan.
Di dalam perjanjian baru Matius 25 mengajarkan perumpamaan Kerajaan Sorga dengan menggunakan istilah “mempelai”.

4.Tuhan Yesus mengadakan muzijat di pesta perkawinan di Kana
Dalam Yohanes 2, Tuhan Yesus mengubah air menjadi anggur, bukankah itu menunjukkan Tuhan begitu peduli akan pesta perkawinan itu?


Nah…. karena itu hargailah dan hormati yang nama keluarga.
Sebagai suami atau istri, tetaplah setia kepada pasangannya masing-masing.
Anak-anak hormatilah orang tua.

Juga hormati dan hargai keluarga orang lain.



Kucinta keluarga Tuhan
Terjalin mesra sekali
Semua saling mengasihi
Betapa s’nang ku menjadi
K’luarganya Tuhan

Minggu, 05 Oktober 2008

Dosa Besar vs Dosa Kecil

Bermain eksperimen yuukkk? (inget kaya’ di SD, SMP dulu…….)


Eksperimen A:

1.Ambil sebuah kerikil

2.Lemparkan ke air kolam.


Eksperimen B:

1.Ambil sebuah batu yang besar

2.Lemparkan ke air kolam


Apa yang terjadi dari kedua eksperimen itu?


Hasil Eksperimen A:

1.Menimbulkan riak kecil di permukaan air kolam.

2.Kerikil tenggelam ke dasar kolam


Hasil Eksperimen B:

1.Menimbulkan riak besar di permukaan air kolam.

2.Menimbulkan suara yang keras.

3.Kerikil tenggelam ke dasar kolam


Kesimpulannya:

Awalnya memang beda, yang satu menimbulkan riak kecil dan ang satu menimbulkan riak besar dan bersuara, tetapi hasil akhirnya keduanya sama-sama tenggelam ke dasar kolam.


Perlajaran apa yang dapat kita ambil?

Sering kali kita berpendapat ada dosa kecil dan dosa besar.

Kita selalu mengabaikan dosa-dosa kecil, dan menganggap itu tak masalah.

Kita hanya fokus terhadap dosa-dosa besar, karena “bunyinya” didengar, dirasakan dilihat orang lain bukan?.

Tanpa kita sadari ternyata dari dosa-dosa kecillah kita akan menjadi terbiasa melakukan dosa-dosa yang lebih besar.


Hasil semua dosa itu sama, yaitu masuk neraka bukan?

Karena itu marilah kita selalu waspada, dosa adalah tetap dosa tak peduli kecil maupun besar.


Satu hal yang harus selalu diingat, baik ‘dosa kecil’ apalagi ‘dosa besar’ perlu pengampunana dari Tuhan.

Karena itu mari datang dan minta ampun kepada Bapa kita Tuhan Yesus Kristus.

Hanya Dialah yang sanggup melakukannya, bukankah demikian?

Jumat, 05 September 2008

Pilkada, Pemilu …. kok memilukan!!

Akhir-akhir ini di Indonesia sedang marak diselenggarakan Pemilihan Kepala Daerah dan tahun depan aka nada Pemilu.

Kalau dulu pemilihan langsung oleh rakyat hanya dilakukan oleh masyarakat desa dalam menentukan Kepala Desanya.

Mungkin pemikiran diadakannya pemilihan langsung oleh rakyat ini didasarkan atas teori demokrasi itu datangnya langsung dari rakyat dilakukan oleh rakyat dan hasilnya untuk rakyat itu sendiri.Tetapi ada juga yang sebenarnya menentang hal itu, karena Indonesia sebenarnya menganut asas demokrasi melalui perwakilan (sila keempat Pancasila).

Ironisnya demokrasi secara langsung itu secara kenyataannya justru banyak terjadi penyimpangan, mulai dari pengerahan masa yang dapat berakibat konflik sampai dengan kecurangan-kecurangan bahkan bukan rahasia lagi terjadi ‘money politic’.

Setiap calon yang ‘berlaga’ di ajang Pilkada berusaha memenangkan kedudukan itu dengan berbagai cara, bahkan cara-cara negatifpun mereka lakukan.

Ada satu tayangan TV beberapa waktu lalu yang menarik bagi saya, para elit politik kita yang sebenarnya orang-orang berpendidikan dan mengaku bergama, ternyata menggunakan bantuan dukun (paranormal) dan kekuatan jahat tentunya. Bahkan para dukun itu dengan sombongnya menyatakan banyak pasiennya yang berhasil meraih jabatan itu.

Dalam hati saya berpikir bagaimana jadinya jika mereka menang, apakah mereka tidak meminta tumbal atas terpilihnya jadi pejabat?

Kita sebagai orang Kristen sepatutnya merasa prihatin dengan kondisi demikian ini, bagaimana negeri ini dapat diberkati Tuhan jika ternyata para pemimpin kita begitu jahat di mataNYA. Karena itu marilah kita memerdekakan bangsa ini secara rohani, satu langkah kecil dapat kita awali dengan berdoa agar pemerintahan kita bersih dari praktek-praktek perdukunan karena itu adalah salah satu penghalang berkat Tuhan bagi Indonesia.

Sudahkah Anda berdoa bagi bangsa ini?
Sudahkah Anda berdoa bagi pemerintah?
Sudahkah Anda berdoa bagi para pejabat di pusat sampai di daerah di mana Anda tinggal?

Kemerdekan rohani bangsa ini juga merupakan tanggung jawab kita orang Kristen.
Doakanlah.

Minggu, 17 Agustus 2008

Hari Merdeka.

Setiap tanggal 17 Agustus negara kita memeringati hari kemerdekaan, dan tak terasa 63 tahun sudah usia negeri tercinta Indonesia ini.
Kemeriahan terjadi di mana-mana tentunya, berbagai perlombaan diadakan untuk memeringati hari bersejarah ini.

Tetapi dibalik itu semua apakah kita sudah benar-benar merdeka?
Lihatlah di sekitar kita, banyak anak putus sekolah, banyak yang tak bisa baca tulis, banyak tetangga kita yang masuk kategori miskin selalu berkekurangan, juga lihatlah para pejabat kita yang korupsi, sungguh memprihatinkan bukan?

Kita sebagai umat Kristen tentunya tidak boleh tinggal diam begitu saja melihat kenyataan ini. Tuhan Yesus banyak memberi contoh kepada kita untuk selalu mengasihi dan menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Mungkin saja kita berpikir, bagaimana mungkin kita dapat menolong, membantu orang lain jika kondisi kita juga perlu dibantu?

Banyak hal-hal “kecil” yang dapat kita lakukan untuk rakyat dan negeri tercinta ini.
Sebagai contoh :
Doakan dengan sungguh agar pemerintah pusat dan daerah (pejabat & aparatnya) dapat bekerja dengan benar, dan doakan juga agar secara rohani mereka juga benar. Doakan semakin banyak umat Tuhan yang ada di pemerintahan dan mampu bekerja dengan benar di hadapan Tuhan.
Secara pribadi atau bergabung dengan organisasi tertentu untuk mengalang dana pendidikan anak-anak miskin, untuk kesehatan kaum miskin dan sebagainya.
Berilah pakaian, makanan kepada tentangga kita yang sangat membutuhkan.
Bagikan ilmu pengetahuan kita kepada orang lain, supaya kita tidak egois dan jangan takut tersaingi.

Masih banyak hal-hal yang kita anggap “kecil” yang sebenarnya dapat membantu memerdekakan negeri ini.
Baik itu memerdekakan secara rohani maupun memerdekakan secara jasmaninya.

Jangan takut karena kita “kecil”, minoritas, karena Tuhan telah berjanji dari yang kecil ini Tuhan akan memberi kuasa yang sangat luar biasa yang menjadi berkat bagi lingkungan sekitar kita.

Matius 13:31 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.
Matius 13:32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya."

Bagaimana Kalau ……….? Jangan-jangan …….?

I Yohanes 4:18
Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

Sering kali pikiran kita diliputi oleh kecemasan, ketakutan, keragu-raguan, bimbang dan merasa bahwa sesuatu yang akan kita hadapi adalah suatu hal yang kita tidak mampu mengatasinya, pasti akan gagal mencapai tujuan, jangan-jangan suatu hal buruk akan terulang lagi.

Kondisi di atas seakan-akan selalu membayangi kehidupan kita, memang itu benar sekali, tetapi tak perlu berlarut-larut dalam keadaan ini. Kuncinya adalah ada dalam diri kita sendiri, bagaimana kita memandang suatu masalah itu.

Cobalah untuk tidak lagi menempatkan suatu masalah pada posisi yang sama dengan masalah yang dulu pernah kita hadapi. Cari sudut pandang yang berbeda akan masalah itu, lihatlah kondisi sekitar bahwa waktu, tempat dan mungkin orang-orang yang ada berbeda sekali dengan masalah yang dulu pernah kita hadapi. Sehingga dugaan bahwa hal buruk dan kekecewaan pasti akan menimpa, tak akan pernah ada di dalam pikiran kita lagi.

Bertekun dalam menghadapi masalah, kita harus berani melangkah maju, hilangkan pikiran “Bagaimana kalau ……(daftar hal-hal negatif bermunculan dalam pikiran kita)……..?”.
Jangan lari meninggalkan masalah, sekali kita lari masalah yang sama mungkin akan kita hadapi lagi dan ketakutan itu akan selalu mengejar kita.

Hadapilah masalah dari “dekat” bukan dari “kejauhan”. Bisa jadi, apa yang kita takutkan (yang kita anggap masalah) mungkin saja hanyalah hasil imajinasi pikiran kita sendiri, sebenarnya masalah itu tidak pernah ada!

Selasa, 29 Juli 2008

Lahir Baru

Ke arah mana saat ini kita melangkah?
Apakah ke surga atau ke neraka atau kita tak tahu ke arah mana kita melangkah?

Di dalam Yohanes 3:1-21 menceritakan mengenai percakapan Tuhan Yesus dengan Nikodemus yang merupakan seorang pemimpin/guru agama Yahudi. Sebagai pemimpin agama tentunya kita dapat berkata bahwa Nikodemus pastilah orang yang terpandang, orang yang dihormati, orang saleh, selalu berbuat baik, beribah dengan taat dan sebagainya, dengan kata lain semua kebaikan dia lakukan.

Tentunya orang akan berpendapat bahwa orang yang berkelakukan baik akan masuk surga. Mungkin orang-orang pada jaman itu mengatakan Nikodemus pasti masuk surga karena kedudukannya dan mungkin juga karena perbuatan baik yang dilakukannya. Tetapi Tuhan Yesus berkata sebaliknya, Nikodemus tidak akan masuk surga. Walaupun ketaatannya terhadap agama dan semua perbuatan baiknya, itu tidak cukup. Dan Tuhan Yesus berkata kepada Nikodemus “kamu harus dilahirkan kembali”

Mengapa harus dilahirkan kembali?
“Dilahirkan kembali” berarti dia harus berubah. Berubah bukan semata-mata hanya secara agama dimana seseorang terlihat semakin tekun, selalu terlibat dalam acara-acara gereja, bukan hanya berubah secara etika dimana tutur katanya terdengar manis, lembut, sopan, dan juga bukan perubahan secara fisik, terlihat lebih anggun, cantik/ganteng. Tetapi yang berubah adalah apa yang ada dalam dirinya, hatinya, rohnya! Secara pribadi dia harus percaya kepada Tuhan Yesus.

Kita harus lahir baru karena Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan hal itu “kamu harus dilahirkan kembali”, Tuhan sendirilah yang menghendakinya karena Dialah satu-satunya jalan menuju surga, itulah syarat jika ingin masuk ke surga : “lahir baru”.

Nah … sekarang ke arah mana kita melangkah, semakin dekat atau semakin jauh dari Kerajaan Surga?

II Korintus 5:17
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Inikah Iman atau Pemaksaan Kehendak?

Sudah bertahun-tahun saya berdoa agar setelah bekerja saya dapat mempunyai rumah sendiri dan membahagiakan kedua orang tua, mengingat rumah yang kami tempati selama ini bukanlah rumah kami, kami hanya menumpang

Saya juga berdoa agar saya segera menemukan pasangan hidup, menikah, berbahagia, memberi cucu lagi kepada orang tua (kedua kakak sudah berkeluarga dan telah memiliki anak), dan doa-doa lain seputar masalah ini.

Tak ketinggalan juga saya memiliki harapan agar suatu saat nanti, saya dapat juga memiliki anak asuh, saya ingin menjadi ayah angkat mereka, saya ingin menyekolahkan mereka dan hal-hal lain lagi yang tentunya terdengar sangat mulia bukan? (Walaupun saat ini saya sudah ikut memberi persembahan khusus bagi TK Kristen di gereja saya, tapi saya nilai itu belum cukup, baik belum cukup nilai uangnya dan tentunya belum banyak anak yang terbantu).

Tetapi kenyataannya semua doa itu belum dijawab Tuhan.

Pikirku, bukankah semua doaku, permintaanku, rencanaku adalah hal-hal yang baik dan mulia? Punya rumah untuk membahagiakan orang tua, menolong anak-anak kurang mampu, dan menikah/berkeluarga bukankah juga salah satu amanatNya? Mengapa belum juga Tuhan kabulkan?

Lama saya merenungkan hal ini, sampai akhirnya saya mulai menemukan titik terang apa yang Tuhan mau atas hidupku, mengapa doaku belum dijawabNya?

Beberapa bulan lalu tepatnya bulan April 2008, bukannya rumah yang saya dapat ternyata saya menerima motor inventaris kantor, suatu berkat Tuhan yang tak pernah saya pikirkan (karena saya sudah punya motor, jadi tak berharap punya motor baru).

“Mengapa Tuhan justru memberi motor kepada saya, bukankah rumah yang kami butuhkan, lalu motorku sendiri mau diapakan?” demikian protesku.

Tapi Tuhan berencana lain, ternyata kakakku membutuhkan motor satu lagi, mengingat istrinya juga bekerja dan mereka hanya punya satu motor jadi selama ini dari sisi transportasi agak merepotkan.

Berkat yang luar biasa bukan? Tuhan mengerti kebutuhan kakak saya, ternyata Tuhan memakai saya untuk dapat mengatasi masalah transportasinya.

Masalah jodoh juga membuat saya gelisah, kenapa belum ada yang mau?

Apakah karena penampilanku kurang meyakinkan? (gak ganteng gitu loh)

Apakah karena masalah ekonomi yang belum mapan, belum punya rumah, belum punya mobil, belum punya ini dan itu?

Apakah karena bukan aktivis gereja (secara rohani dipertanyakan)?

Apakah karena bukan pribadi yang bisa dipercaya?

Setelah saya renungkan ternyata baru saya sadari bahwa saat ini diriku menjadi tumpuan hidup kedua orang tua. Mengingat mereka sudah tidak bekerja, tidak ada uang pensiun, mereka mau makan dari mana jika saya cepat-cepat nikah (walaupun umurku sudah kepala 3 loh!)? Saat ini adalah giliranku, kewajibanku untuk merawat dan memenuhi kebutuhan orang tuaku, hal ini dulu dilakukan juga oleh kedua orang kakakku

Dari point inilah saya ambil tekad untuk tidak mau lagi memaksakan kehendak, tak mau lagi memaksa agar Tuhan lakukan persis apa yang saya minta, saya tak mau lagi membatasi kuasa Tuhan. Saya mengimani bahwa rencanaNya adalah jauh lebih baik dan benar dari rencanaku.

Tentunya saya tetap berdoa, tetapi tidak “ngotot” seperti dulu (jika sepertinya bukan jawaban yang saya doakan saya langsung kecewa dan menolaknya), karena saya yakin setiap kesempatan yang diberikan Tuhan patut saya jalani dan syukuri, mungkin itu adalah jawaban atas segala doaku, mungkin saja hanya “bungkusnya” yang berbeda tetapi isinya adalah terkabulnya doaku atau bahkan lebih dari doaku.

Saya tetap mengimani bisa punya rumah, kalau toh tidak punya rumah di bumi saya punya rumah di surga.

Saya mengimani ada seorang gadis yang mau mencintai, menerima keadaan saya apa adanya, menerima kekurangan (jasmani & rohani) saya, percaya bahwa saya sanggup membahagiakannya dan saya menunggu waktu terbaiknya Tuhan.

Saya mengimani bahwa saya bisa berbuat sesuatu untuk kemuliaan Tuhan, walaupun itu baru bisa saya mulai dengan perbuatan-perbuatan kecil dan sederhana saja.

Bagaimana dengan Anda apakah IMAN atau PEMAKSAAN KEHENDAK yang Anda miliki?

Dasar Anak Tak Menghormati Adat Istiadat!

Pernahkah anda mendapat teguran seperti judul di atas dari orang tua atau orang-orang di sekitar kita?

Kita tak akan pernah lepas dari adat istiadat, dimanapun kita berada pastilah akan menjumpai yang namanya adat istiadat. Bagaimana seharusnya orang Kristen memandang adat istiadat ini?

Salah satu adat istiadat yang sering kali kita jumpai adalah saat upacara kematian. Banyak daerah di Indonesia“diselamati”, perlu dikirimi uang dan kekayaan. Dan hal ini justru akan berakibat keluarga yang masih hidup akan jatuh miskin, terlilit hutang, hidup penuh penderitaan. Usaha mereka hanya sia-sia, karena orang mati sudah ada tempatnya sendiri, justru yang perlu dipikirkan adalah orang yang masih hidup. yang memiliki adat istiadat menyangkut upacara kematian bahkan dengan menghabiskan uang yang sangat besar. Tidak jarang untuk menjaga gengsi keluarga mereka harus berhutang, mereka beranggapan orang mati perlu

Selain harta yang terbuang percuma, adat istiadat tersebut telah menyeret kita ke dalam kuasa-kuasa kegelapan, kita menduakan, mengingkari kuasa Tuhan.

Ingatlah bahwa Tuhan Yesus datang untuk orang-orang yang hidup, bukan untuk orang-orang yang mati. Orang mati tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tetapi orang yang hidup dapat berbuat segala sesuatu, melalui kehidupan kita, kemuliaanNya dinyatakan, Tuhan menyediakan kasih karunia bagi kita dan memberikan kemenangan atas segala kekuatiran kita.

Beranikah kita “menentang” adat istiadat itu?

Lukas 20:38
Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.

Jumat, 25 Juli 2008

Hidup dalam Pemeliharaan Tuhan

Kejadian 6:9-22

Jika kita memunyai hewan atau tanaman pastilah kita akan memeliharanya dengan sungguh-sungguh. Kita akan memerhatikan makanannya, minumannya, media tanam yang cocok, penempatan kandang atau penempatan pot yang sesuai sehingga hewan dan tanaman tersebut dapat hidup dengan baik dan sehat. Memelihara berarti selalu menjaga, merawat, memerhatikan, menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan. Kita pasti akan selalu rela berkorban dan dengan senang hati melakukan segala upaya agar apa yang kita pelihara selalu dalam kondisi baik.

Begitu juga dengan Tuhan, Tuhan selalu ingin memelihara hidup kita agar selalu baik. Tuhan telah merancangkan berbagai-bagai pemeliharaan atas kita, tetapi kita harus memenuhi syarat agar kita terpelihara.
1.Tuhan selalu mengundang kita agar mau masuk dalam pemeliharaanNya. Tuhan telah buka jalan untuk keselamatan kita, pertanyaannya adalah maukah kita masuk memenuhi undangan Tuhan itu? Segala sesuatu yang Tuhan telah sediakan bagi kita akan menjadi sia-sia jika kita tak mau melangkah masuk ke dalamnya.
Seperti Nuh beserta keluarganya dan hewan-hewan yang masuk ke dalam bahtera saja yang Tuhan selamatkan.
(Kej 6:18 Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu.)
2.Tuhan menghendaki agar kita hidup yang benar, tidak bercela dan hidup bergaul dengan Allah. Dunia ini semakin hari semakin rusak, kita selalu dapat menemukan hal-hal negatif di sekitar kita di manapun kita berada. Pertanyaannya adalah mampukah kita untuk hidup berbeda dari pada hidup orang-orang di sekitar kita yang banyak melakukan hal-hal jahat di mata Tuhan, dimana hidup kita selalu tetap berjalan di dalam Tuhan? Sama seperti Nuh yang tidak terpengaruh dengan kehidupan jahat orang-orang sejamannya sehingga Tuhan berkenan memelihara hidupnya.
(Kej 6:9 Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah)
3.Melakukan segala sesuatu tepat seperti apa yang diperintahkan Tuhan. Tepat berati tidak mengurangi atau tidak menambahkan sesuatu.
Bayangkan jika Nuh tidak berbuat tepat seperti perintah Tuhan, mulai dari kayu untuk bahtera, ukuran, bentuk dan segala sesuatu yang telah Tuhan rancang untuk bahtera itu, pastilah bahtera yang Nuh buat tidak akan mampu bertahan dalam air bah itu.
(Kej 6:22 Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.)

Tuhan begitu baik bukan?
Dia telah menyediakan segala pemeliharaan bagi manusia.
Bagaimana dengan kita, maukah kita menikmati pemeliharaan yang telah Tuhan sediakan itu?

K A R A K T E R, apa itu?

Pasti Anda masih ingat peristiwa beredarnya foto-foto maupun video dari para politikus kita yang sedang bermesraan dengan para wanita. Menanggapi foto-foto maupun video itu, para politikus tadi dengan santainya berkata itu bukan saya, itu hanya fitnah, itu tidak seperti yang diduga karena hanya rekayasa. Mereka kebanyakan tidak mau mengakui perbuatan tak bermoral itu, bahkan ada yang mengatakan ini semua adalah tindakan pembunuhan karakter yang dilakukan lawan politiknya mengingat sebentar lagi akan ada pemilu (tahun 2009).

Menanggapi hal itu dalam hati saya berkomentar:
“Pembunuhan karakter? “
“Karakter yang bagaimana yang dibunuh?”
“Apakah tindakan tidak bermoral itu bagi mereka adalah perbuatan yang wajar dan hal yang biasa, sehingga hal semacam itu tak perlu dipermasalahkan?”
Yang paling mengerikan adalah “Apakah tindakan tak bermoral itu adalah karakter mereka sesungguhnya?”
Bisa dibayangkan bagaimana jadinya bangsa ini jika kita memiliki banyak politikus yang berkarakter seperti itu, tak bermoral!!! Hancurlah bangsa ini!!!

Sebenarnya sulit sekali kita menilai karakter seseorang, tidak semudah mengatakan “Oh ia orang yang berkarakter ini…., Oh dia berkarakter itu…..”, kita bisa tertipu. Justru karakter seseorang sering kali dapat dilihat saat mengalami masa-masa sulit atau masa-sama memiliki jabatan, kekuasaan atau hidup “sukses”.

Sama seperti diri kita sendiri, kadang kita tak dapat menilai seperti apa karakter kita sesungguhnya. Sering kita berharap agar diri kita menjadi seorang yang berkarakter, memiliki karakter-karakter yang bagus, yang terbaik. Boleh-boleh saja! Tapi ingat membentuk karakter tidak gampang, butuh proses panjang dan pasti ada pengorbanannya!!

Janganlah kita membayangkan hal-hal yang besar dulu, tetapi lakukan dulu hal-hal kecil, hal-hal sepele yang sebenarnya sangat mudah kita temukan dan dapat kita lakukan. Sebagai contoh jika berjanji bertemu seseorang datanglah tepat waktu, tepati setiap perkataan kita walaupun mungkin itu semua hanya bercanda karena janji adalah janji jadilah pribadi yang selalu menepati janji, janganlah mudah berbohong sekecil apapun berbohong tetaplah dosa, bersikap sopan santun terhadap orang lain, membantu seseorang menyeberang jalan, taati rambu lalu-lintas walaupun tak ada polisi.

Dari hal-hal kecil dan sepele seperti itu jika dibiasakan dan terus dilakukan, tanpa kita sadari akan membentuk diri kita menjadi pribadi yang berkarakter. Setuju?

Karakter bukan diukur dari apa yang kita dapat dari nenek moyang, tetapi dari apa yang dapat kita wariskan kepada anak cucu kita.
Amsal 13:22 Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar.

Minggu, 13 Juli 2008

Kuasa

Siapa sih orang yang tak mau memiliki kekuasaan?
Pastilah semua orang mau berkuasa.
Dengan kekuasaan kita dapat memerintah orang lain melakukan sesuatu.
Dengan kekuasaan kita dihormati.
Dengan kekuasaan kita dihargai.
Dengan kekuasaan …… sepertinya segala sesuatu menjadi milik kita.

Di Indonesia sedang “musim” pilkada dan tahun depan ada pemilu dan pemilihan presiden. Semua kegiatan itu bertujuan untuk memberi kuasa kepada seseorang atau sekelompok orang atau partai menjadi pemimpin-pemimpin bagi Indonesia. Karena akan menjadi pemimpin segala cara dilakukan oleh mereka, mulai dari kampanye, bakti sosial, mengeluarkan janji-janji yang mungkin tak akan digenapi, ….. dan banyak lagi (yang baik maupun yang buruk sekalipun).

Mereka saling berebut untuk berkuasa.
Bagaimana dengan orang Kristen?
Ternyata Tuhan telah memberikan kuasa kepada kita untuk bersaksi, untuk menjadi utusanNya memberitakan Injil.
Kita tak perlu repor-repot mencari-cari kuasa, karena Allah telah mengaruniakan kuasa kepada kita.

Kita telah beroleh kuasa itu, selanjutnya bagaimana?
Apakah kita akan seperti para politikus, para pemimpin bangsa ini setelah mendapat kuasa sering kali lari dari tanggung jawab, lari dari janji-janji yang seharusnya digenapi?

Setidaknya ada tiga (3) hal yang dapat kita lakukan untuk menjalankan kuasa memberitakan Injil :
1.melalui pernyataan
Kita dapat bercerita bahwa manusia telah berdosa dan upah dosa adalah maut, tetapi karena kasih karuniaNya, Tuhan Yesus telah menebus dosa manusia dan menyelamatkan manusia dari maut.
2.melalui hubungan yang baik dengan lingkungan
Tuhan Yesus selalu memberikan teladan kepada kita untuk memiliki hubungan yang baik dengan sesama, dengan anak-anak, dengan yang muda dan yang tua, dengan laki-laki maupun wanita, dengan yang berbuat baik maupun yang berbuat dosa sekalipun. Tunjukkan kasih karunia yang telah Tuhan berikan kepada kita kepada lingkungan di manapun kita berada, selalu membangun hubungan baik dengan semua orang.
3.Injil menjelma dalam kehidupan kita
Jalani hidup kita sesuai Firman Tuhan. Jadikan diri kita sesuai isi berita Injil, sehingga orang lain dapat membaca Injil dalam setiap tingkah laku dan perbuatan kita.

Sebenarnya melalui “kehidupan normal” yang kita jalani ini kita juga dapat memberitakan Injil asalkan kehidupan kita adalah isi dari Firman Tuhan.

Kisah Para Rasul 1:8
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

Rabu, 09 Juli 2008

Mengampuni

Mengampuni

Secara teori sangat mudah kita berkata “Aku mengampuni orang yang bersalah kepadaku.”, tetapi kenyataannya, pada prakteknya sangat sulit bukan?

Mengapa kita harus mengampuni?

1.Orang yang melakukan kesalahan kepada kita sering kali akan tersadar dan merasa dikejar-kejar rasa bersalah, hidupnya akan mengalami ketidaktenangan jangan-jangan kita akan balas dendam. Di sinilah sebenarnya tugas kita orang Kristen untuk menjadi berkat bagi mereka dengan mengampuninya, supaya mereka terbebas dari rasa bersalah dan kitapun terbebas dari rasa dendam. (Kejadian 50:15 Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: "Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.")

2.Karena kita juga manusia yang tidak sempurna, kita juga sering melakukan kesalahan kepada orang lain juga, jika kita tidak mengampuni, tentu saja kita juga tidak akan diampuni oleh orang lain yang kita rugikan apalagi diampuni oleh Tuhan. (Kejadian 50:19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?)

3.Karena kita boleh percaya bahwa manusia akan merancangkan hal-hal yang jahat kepada kita, tetapi Tuhan merancangkan hal yang baik bagi kita. Sering kali lewat kesalahan yang dilakukan orang lain kepada kita dari situ kuasa Tuhan, berkat Tuhan akan dinyatakan kepada kita. Karena jika kita mengampuni, Tuhan berjanji akan mendatangkan berkat bagi kita. (Kejadian 50:20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.21 Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.)

Pengampunan menggambarkan bagaimana kedekatan seseorang dengan Tuhan, ia akan berserah kepada Tuhan, bahwa kekecewaan, kesedihan, kesakitan, dendam yang dialami akan dapat dilalui atas pertolonganNya.

Pengampunan membutuhkan perjuangan dan kerja keras, untuk mewujudkannya tidak cukup hanya berserah kepada Tuhan, tetapi persoalannya maukah kita melakukannya (mengampuni)?

Pengampunan akan mendatangkan berkat yang luar biasa bagi yang melakukannya.

Emping Melinjo


Emping Melinjo
Bulan Juni dan Juli ini sepertinya bulannya orang menikah, makanya saya mendapat undangan yang lumayan banyak. Setiap kali saya datang ke tempat hajatan pernikahan tersebut, dapat dipastikan ada makanan ringan (jajanan) yang disajikan, makanan itu adalah emping melinjo. Camilan yang nikmat, renyah dan gurih, bahkan sudah diekspor ke manca negara.

Akupun berpikir bagaimana cara membuat emping ini?

Perjalanan melinjo menjadi makanan yang renyah dan enak:

1.Melinjo yang sudah tua dipetik dari pohonnya. Disortir, dipilih mana yang bisa diproses menjadi emping.

2.Kulit melinjo dikupas, buah/bijinya ini biasa disebut klatak.

3.Klatak disangrai (digoreng tanpa minyak biasanya dengan pasir yang sangat panas).

4.Klatak yang panas tadi satu persatu dipipihkan dangan cara ditumbuk dengan tehnik khusus supaya tidak pecah dan bentuknya bundar, biasaya emping dibuat dari 2-3 klatak, tergantung ukuran yang dikehendaki.

5.Klatak yang pipih tadi kemudian diangkat, diangin-anginkan kemudian dijemur hingga kering.

6.Setelah kering, jadilah emping yang siap dikonsumsi. Tetapi harus digoreng dengan minyak agar emping matang dan benar-benar siap kita nikmati, biasanya emping diberi rasa asin (gurih) atau manis.

Sama halnya dengan hidup ini, segala sesuatu membutuhkan proses, perlu waktu, perlu perjuangan dan kerja keras kadang menyedihkan, tidak sesuai rencana kita. Sering kali kita tidak menyadarinya, kita hanya ingin cepat mendapatkan hasil yang baik, enak, tetapi kita melupakan bahwa segala sesuatu perlu proses, diri kita harus dibentuk dan ditempa, dan semuanya itu sakit dan melelahkan.

Tetapi semua tempaan dan rasa sakit itu akan terbayar dengan suatu hasil yang luar biasa indahnya, suatu hasil yang Tuhan siapkan bagi kita untuk menjadi berkat bagi kita dan orang lain.

Selasa, 01 Juli 2008

Kapan Terakhir Anda Kecewa?

Bacaan : Kisah Para Rasul 16

Rasa kecewa sering kali kita alami, wajar hal itu terjadi. Rasa kecewa muncul ketika keinginan, harapan kita tak terpenuhi. Kekecewaan dapat dialami oleh siapa saja, dalam kondisi apapun dan di mana saja.

Bahkan di gerejapun kita dapat kecewa, seperti yang saya alami kemarin (hari Minggu 29 Juni 2008), pergi ke gereja dari rumah sudah membayangkan Firman Tuhan akan dibawakan oleh gembala sidang seperti biasanya, eee..... tak tahunya beliau tugas ke Jakarta dan diganti pendeta lain. Kecewa karena pendeta penggantinya masih muda dan dia itu temanku sendiri jadi agak gimana gitu. Walaupun berat, terasa aneh belum terbiasa akhirnya rasa kecewa itu berangsur-angsur hilang dan kecewa berganti suka cita.

Para rasulpun sering kali kecewa, seperti rasul Paulus, dalam rencananya ia ingin pergi ke Asia tetapi Tuhan mencegahnya, sehingga Paulus mengalihkan perjalanannya. Kemudian Paulus ingin memasuki Bitinia tetapi sekali lagi Tuhan melarangnya. Mungkin saja Paulus sudah merencanakan untuk mendatangi kota-kota tersebut untuk memberitakan Injil di sana, mungkin juga ia memilih kota-kota yang besar dan indah.

Rencana Paulus tentulah baik, tetapi mengapa Tuhan melarangnya? Ternyata Tuhan merencanakan agar Paulus pergi ke tempat lain yang lebih membutuhkannya, yaitu ke daerah Makedonia. Dan benar saja di sana banyak orang menjadi percaya dan mengikut Yesus.

Bayangkan jika rasul Paulus tidak taat tentu tidak akan mengindahkan larangan Tuhan, apabila Paulus tidak merenungkan apa maksud Tuhan dan tidak mempercayai Tuhan tentulah orang-orang di Makedonia tidak akan mendapat kabar sukacita bukan?

Yang menjadi permasalahan dari rasa kecewa sebenarnya adalah bagaimana cara mengatasinya, supaya kita tidak berlarut-larut dalam kekecewaan.
1.Seberat apapun kita kecewa, tetaplah taat kepada Tuhan.
2.Lewat rasa kecewa itu carilah apa maksud/rencana Tuhan atas diri kita.
3.Tetaplah percaya/imani bahwa rencana/harapan/keinginan kita yang gagal karena rencana Tuhan jauh lebih baik dan lebih benar bagi kita.

Yeremia 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Minggu, 29 Juni 2008

Bukan Telepon Biasa

Ingat akan slogan di atas?
Jangan heran dengan slogan itu, kita sebagai orang Kristen justru seharusnya lebih bangga karena kitapun seharusna memiliki slogan yang lebih dahsyat, yaitu “TELEPON LUAR BIASA n GRATIS LAGI !!”, tanpa ada syarat-syarat berlaku kapan kita harus telepon dan sebagainya, dan yang penting adalah GRATIS kapanpun kita gunakan.

Ingat yang namanya doa?
Tentu kita mengetahuinya bukan?
Tetapi apakah kita sudah berdoa dan bertekun di dalamnya?

Doa bukan hanya sarana/jalan bagi kita untuk meminta sesuatu kepada Tuhan. Doa merupakan hubungan dua arah antara manusia dengan Tuhan.

Tuhan telah memerintahkan kepada kita untuk selalu berdoa, Tuhan selalu mengundang kita untuk datang kepadaNya siapapun, kapanpun dan bagaimanapun perasaan kita. Dia rindu untuk bersekutu, berdialog dengan kita.

Kenyataan ini seharusnya dapat memotivasi kita untuk mempergunakan lebih banyak waktu datang kepada Tuhan, karena kita ingin memuliakan dan menyukakan hatiNya.

Yeremia 33:3 Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.

Sabtu, 28 Juni 2008

Modalnya seiprit dapetnya segajah!

Demikian salah satu iklan yang biasa kita lihat di TV. Siapa seeh yang tak ingin mendapatkan untung besar dengan hanya sedikit modal? Semua orang tentu mau bukan?

Sehingga teori ekonomi mengatakan (klo tidak salah ya?) berusaha melakukan pengeluaran yang sedikit untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Tetapi pada kenyataannya untuk mendapatkan hasil yang lebih besar maka modalpun harus ditambah lebih besar dari semula.

Sebaliknya di dalam Alkitab, Tuhan telah banyak menunjukkan kepada kita, bahwa justru dengan semakin sedikit modal yang kita miliki semakin mendatangkan hasil yang lebih besar.
Dalam Perjanjian Lama
Akan kita temukan bagaimana Tuhan membantu raja-raja Israel dalam mengalahkan musuh-musuhnya, cukup dengan mengirimkan bala tentara yang jumlahnya sangat sedikit untuk mengalahkan tentara musuh yang jumlahnya sangat besar. Tuhan selalu menyeleksi orang-orang yang boleh ikut berperang, jika jumlahnya terlalu banyak Dia akan memerintahkan kepada raja-raja Israel untuk menguranginya sejumlah yang Tuhan telah tentukan.
Dengan jumlah yang sedikit Tuhan ingin supaya orang Israel tidak memegahkan diri (sombong) dan namaNya dimuliakan oleh orang Israel.

Dalam perjanjian Baru
Baca Matius 14&15, Markus 6&8, Lukas 9, Yohanes 6.
Dengan 7 roti Tuhan memberi makan 4000 laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak, dan tersisa roti 7 bakul.
Dengan 5 roti Tuhan memberi makan 5000 laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak , dan tersisa roti 12 bakul.
Data di atas terlihat menarik buka? Dengan semakin sedikit roti Tuhan justru mampu memberi makan lebih banyak orang!
Jika kita otak-atik bisa jadi Tuhan akan melakukan hal ini:
Dengan 3 roti Tuhan memberi makan 6000 orang dan tersisa 17 bakul?
Dengan 1 roti Tuhan akan memberi makan 7000 orang dan tersisa 22 bakul?
Tuhan selalu menggunakan apa yang kita miliki untuk dilipatgandakan sehingga menjadi suatu berkat yang luar biasa.

Janganlah kuatir akan apa yang kita miliki (kepandaian, kekayaan, pelayanan, dsb), sesedikit apapun, karena Tuhan akan melipatgandakannya.

Indonesia urutan ke-108 dari 177 yang ‘melek huruf’

Sebuah kenyataan yang memilukan bukan?
Sebetulnya pemerintah telah banyak membuat program-program untuk mengentaskan masyarakat dari buta huruf., salah satunya adalah program wajib belajar. Tetapi mengapa jumlah masyarakat yang buta huruf di Indonesia masih banyak?
Bisa dibayangkan bagaimana kualitas SDM bangsa Indonesia, memprihatinkan bukan? Bisa-bisa kita hidup terjajah oleh SMD bangsa lain!

Sama halnya dengan kita, sudahkah kita ‘melek siapa Tuhan Yesus’, sudahkah kita menerima didikan akan Tuhan?
Karena itu didiklah diri kita dalam kebenaran Allah karena Allah adalah sumber hikmat.
Kita harus mau dididik untuk hidup dalam iman.
Terdidik untuk selalu mengandalkan Tuhan.
Terdidik untuk menjadikan firman Tuhan sebagai pedoman hidup kita.
Terdidik untuk hidup dalam doa, karena selama kita berdoa kita beroleh damai, kekuatan, sukacita, jalan keluar.
Terdidik untuk berjalan dalam Roh Tuhan, tidak lagi dalam daging

Amsal 3:11 Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.

Amsal 4:13 Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu.

Karierku Bagaimana?

Andrei Shevcenko, siapa tak kenal dia? Penggemar sepak bola sejati pasti mengenal sosok pemain yang satu ini. Prestasi yang diukirnya saat bermain di AC Milan begitu luar biasa, banyak gelar ia raih bersama Milan, mulai top score, gelar Scudeto, Juara Liga Champion, Juara Piala Toyota (yang sekarang berubah jadi kejuaraan dunia antar club).

Karena prestasinya inilah membuat Chelsea tertarik untuk mengontraknya, dan akhirnya Sheva main untuk Chelsea. Tetapi apa yang terjadi? Dia tidak mampu memberikan permainan terbaiknya seperti saat membela Milan, dia begitu terpuruk, dia sulit sekali mencetak gol, bahkan pada akhirnya dia hanya dijadikan sebagai pemain cadangan saja, sangat jarang bermain untuk Chelsea.

Mengapa hal itu bisa terjadi ? Banyak faktor yang dapat mengakibatkan seorang pemain tidak dapat menampilkan seluruh kemampuan yang dimiliki saat bermain di klub barunya, misalnya adakah dukungan dari pemain lain sehingga ia dapat bermain dengan baik, suasana tim (kompak di dalam dan luar lapangan), gaya permainan dari tim yang dibela, dan yang tak kalah penting adalah motivasi apakah dia mampu/sadar untuk memanfaatkan bakat yang dimilikinya

Seperti halnya pemain sepak bola yang gagal mengembangkan karier di klub barunya, banyak orang Kristen (termasuk saya pribadi) belum dapat mengembangkan karier sesuai harapan bersama Tuhan. Mereka merasa kebinggungan untuk menjawab, apakah anda sudah melakukan pelayanan kepada Tuhan, apakah anda mau melayani?
Kebanyakan akan menjawab “Saya belum melayani karena tak tahu apa yang dapat saya lakukan, mau menyanyi suara tak merdu…., main musik tak bisa…., mau berbicara kepada orang lain saya bukan tipe orang yang pandai bicara….., lalu bakatku apa ya?”.

Di sinilah sebenarnya peran penting orang-orang di sekitarnya (pendeta, teman gereja/ persekutuan) untuk dapat mendorong seseorang menemukan bakat terpendamnya, sebuah bakat yang mungkin unik yang tidak dapat dimiliki oleh orang lain. Tetapi sering kali dukungan itu tidak seperti yang diharapkan, dia tak pernah dapat menemukan bakatnya, dia mungkin hanya diarahkan untuk melayani seperti kebanyakan pelayanan di gereja, seperti main musik, nyanyi, jadi guru Injil dan sebagainya, yang semuanya itu bukan bakat alaminya sehingga hasilnya tidak maksimal, hanya asal-asalan supaya mendapat julukan “saya sudah melayani”.

Motivasi untuk melayani, juga adalah salah satu faktor yang paling penting. Jika seseorang telah memiliki motivasi maka segala sesuatu akan dia lakukan untuk mewujudkannya. Jika kita sudah tergerak untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan walaupun sekecil apapun, jangan hentikan, jangan berkecil hati, segala sesuatu harus dimulai dari yang kecil. Jangan hiraukan jika ada orang yang tidak suka, menganggap itu bukan suatu pelayanan, meremehkan, yang penting kita percaya bahwa itu semua kulakukan karena Tuhan, dan percayalah Tuhan akan turut bekerja sehingga pada akhirnya kita betul-betul melayaniNya.

Langkah praktis mengembangkan karier di dalam Tuhan:
1.Ada baiknya menemukan seseorang / kelompok, tempat atau media yang tepat yang dapat mendukung kita untuk menemukan bakat dan memulai pelayanan,
2.Motivasi, keputusan, komitmen untuk melayani Tuhan harus datang dari hati kita pribadi.
3.Terus didik diri kita di dalam Tuhan, baca, belajar, renungkan Firman Tuhan.
4.Percayakan segala yang kita lakukan kepada Tuhan

II Korintus 9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;