Minggu, 30 November 2008

Tuhan Begitu Peduli Kepada Keluarga

Keluarga adalah lembaga yang paling utama dalam masyarakat, walaupun juga disebut lembaga terkecil dalam masyarakat.
Di mata Tuhanpun sebuah keluarga dipandang sangat berharga.

Mau bukti bahwa Tuhan begitu menghargai akan arti keluarga?
1.Tuhan sendirilah yang menciptakan keluarga itu.
Keluarga adalah suatu tujuan ilahi yang telah Tuhan rancang sedemikian rupa.
Kejadian 2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

2.Allah menyebut diriNya sebagai suami Israel.
Dalam Perjanjian Lama Yesaya 54:5 Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi.

3.Tuhan Yesus menyebut kita sebagai mempelai perempuan.
Di dalam perjanjian baru Matius 25 mengajarkan perumpamaan Kerajaan Sorga dengan menggunakan istilah “mempelai”.

4.Tuhan Yesus mengadakan muzijat di pesta perkawinan di Kana
Dalam Yohanes 2, Tuhan Yesus mengubah air menjadi anggur, bukankah itu menunjukkan Tuhan begitu peduli akan pesta perkawinan itu?


Nah…. karena itu hargailah dan hormati yang nama keluarga.
Sebagai suami atau istri, tetaplah setia kepada pasangannya masing-masing.
Anak-anak hormatilah orang tua.

Juga hormati dan hargai keluarga orang lain.



Kucinta keluarga Tuhan
Terjalin mesra sekali
Semua saling mengasihi
Betapa s’nang ku menjadi
K’luarganya Tuhan

Minggu, 05 Oktober 2008

Baru Kusadari ……[Lagi]

Sering ku bertanya mengapa keadaanku hanya begini-begini saja, pergumulanku juga tak kunjung kumenangkan…….?

Cerita mengenai seorang yang lumpuh di tepi kolam Betesda (Yohanes 5:1-18) telah menyadarkanku.
Bisa dibayangkan betapa tersiksanya ia selama 38 tahun menderita sakit, bahkan tidak ada orang yang peduli (dimana ya keluarganya? apa tak punya keluarga? apa ia dibuang keluarganya?), rasa terasing dan kesepian tentu sangat ia rasakan. Ia tentunya ingin sembuh, makanya ia menanti di tepi kolam Betesda dan berharap ia masuk ke air pertama kali saat air kolam terguncang, tetapi selalu didahului orang lain.

Sampai akhirnya Tuhan Yesus datang dan menawarkan kesembuhan, karena Tuhan mengetahui keadaan orang itu, “Maukah engkau sembuh?”. Tetapi apa jawabnya? Orang itu justru terfokus kepada keadaan sekitarnya dan orang lain yang tidak mau membantunya, padahal ia tahu siapa yang bertanya (karena ia memanggil dengan nama “Tuhan”). Mengapa ia hanya berkutat kepada orang lain dan bukan fokus kepada Tuhan?. Mengapa ia tak menjawab, “aku mau Tuhan, aku mau sembuh”.

Tuhan Yesuspun menyuruhnya bangun dan mengangkat tilamnya. Di sinilah orang lumpuh itu memiliki iman yang nyata, tanpa berkata-kata ia bangun dan mengangkat tilamnya, sehingga ia mengalami kesembuhan!!! Luar biasa bukan?
Sepertinya tidak ada keraguan dan pertanyaan di hatinya, ia percaya saja dan menuruti kata-kata Tuhan Yesus, akibatnya ia disembuhkan.

Bukan hanya berhenti disitu saja, ternyata orang itu bertemu dengan Tuhan Yesus di dalam Bait Allah. Aku tidak tahu latar belakang orang itu sebelumnya apa sudah mengenal Tuhan (secara pribadi)? Tetapi aku percaya orang itu beribadah dan mengucap syukur atas kesembuhannya (bayangkan 38 tahun sudah ia sakit dan sekarang sembuh), makanya ia di Bait Allah.
Bahkan iapun bercerita bahwa Tuhan Yesuslah yang menyembuhkannya.

Orang lumpuh itu telah dipulihkan secara jasmani dan juga rohani.

Seperti itulah diriku, rasa sepi, kesendirian selalu kurasakan.
Seakan-akan tak ada orang yang peduli lagi (bahkan seseorang yang kucintai).
Selama ini aku hanya terfokus kepada keadaan sekelilingku, aku terfokus kepada orang lain, berharap ada yang selalu menolongku.
Tetapi ………. yang ada hanya kekecewaan, ……… tak ada yang mau bantu ……..?

Tentunya aku tahu siapa Tuhan Yesus, Dia sanggup menolongku, tetapi sekali lagi aku justru terfokus kepada orang lain untuk dapat membantuku.
Dia selalu menawarkan jalan keluar atas segala permasalahanku, seharusnya aku juga selalu menerima tawaran itu 100 %.

Terima kasih Tuhan, hari ini aku kembali Engkau sadarkan, bahwa hanya bersandar dan fokus kepadaMu sajalah aku dapat memenangkan segala pergumulanku selama ini.

Ajar aku selalu mengenalMu lebih, lebih dan lebih dekat, lebih dalam lagi.
Ajar juga aku agar bisa bercerita tentang Engkau kepada orang lain, lewat setiap pikiran, perkataan, perbuatan dan tingkahlakuku, di rumah, di tempat kerja dan di manapun aku berada….. serta lewat media apapun , internet salah satunya..

Aku harus percaya 100 %
Aku harus fokus 100 % kepadaMu, Tuhan Yesusku.































Dosa Besar vs Dosa Kecil

Bermain eksperimen yuukkk? (inget kaya’ di SD, SMP dulu…….)


Eksperimen A:

1.Ambil sebuah kerikil

2.Lemparkan ke air kolam.


Eksperimen B:

1.Ambil sebuah batu yang besar

2.Lemparkan ke air kolam


Apa yang terjadi dari kedua eksperimen itu?


Hasil Eksperimen A:

1.Menimbulkan riak kecil di permukaan air kolam.

2.Kerikil tenggelam ke dasar kolam


Hasil Eksperimen B:

1.Menimbulkan riak besar di permukaan air kolam.

2.Menimbulkan suara yang keras.

3.Kerikil tenggelam ke dasar kolam


Kesimpulannya:

Awalnya memang beda, yang satu menimbulkan riak kecil dan ang satu menimbulkan riak besar dan bersuara, tetapi hasil akhirnya keduanya sama-sama tenggelam ke dasar kolam.


Perlajaran apa yang dapat kita ambil?

Sering kali kita berpendapat ada dosa kecil dan dosa besar.

Kita selalu mengabaikan dosa-dosa kecil, dan menganggap itu tak masalah.

Kita hanya fokus terhadap dosa-dosa besar, karena “bunyinya” didengar, dirasakan dilihat orang lain bukan?.

Tanpa kita sadari ternyata dari dosa-dosa kecillah kita akan menjadi terbiasa melakukan dosa-dosa yang lebih besar.


Hasil semua dosa itu sama, yaitu masuk neraka bukan?

Karena itu marilah kita selalu waspada, dosa adalah tetap dosa tak peduli kecil maupun besar.


Satu hal yang harus selalu diingat, baik ‘dosa kecil’ apalagi ‘dosa besar’ perlu pengampunana dari Tuhan.

Karena itu mari datang dan minta ampun kepada Bapa kita Tuhan Yesus Kristus.

Hanya Dialah yang sanggup melakukannya, bukankah demikian?

Jumat, 26 September 2008

Lama menunggu ya…???


Hampir saja aku melakukan kesalahan ‘fatal’!!

Hampir pohon anggurku kutebang!


Hatiku agak kesal dengan salah satu pohon anggurku yang sudah 3 tahun belum berbuah juga, padahal pohon anggurku yang satu sudah berbuah bahkan itu waktu umurnya baru kira-kira 1 tahun.


Perlakuanku terhadap keduanya tidak ada bedanya (bahkan sama persis), kupupuk, kusiram dan kupotong ranting-rantingnya pada saat bersamaan karena kutempatkan pada lokasi yang sama dan kurambatkan pada tempat yang sama. Setiap kali memotong ranting-ranting mereka aku selalu berdoa agar pohon anggur yang satu ini dapat segera berbuah.


Kucoba untuk bersabar menantikan saat-saat dimana pohon anggur itu berbuah dan buahnya lebih manis dari buah pohon anggur yang satunya karena keduanya dari jenis yang berbeda. Pohon anggur yang sudah berbuah adalah pohon anggur lokal, sedangkan yang satunya sepertinya anggur hijau (impor).


Sudah sekitar 2 minggu ini keduanya telah selesai kupotong ranting-rantingnya dan kubersihkan semua daunnya. Setiap hari kulihat perkembangan mereka, sambil berharap siapa tahu ……. pohon anggur yang belum pernah berbuah itu akan mulai berbunga dan berbuah, tunas-tunas baru mulai bermunculan.


Dan benar juga, bakal-bakal bunga mulai bermunculan, bahkan jumlahnya sangat banyak melebihi jumlah bunga yang biasa muncul pada pohon anggur jenis lokal. Hatiku tentu saja senang bukan main, ternyata penantian dan kesabaranku membuahkan hasil juga dan aku boleh berharap lagi buahnya banyak dan muanis!!



Pelajaran yang dapat kupetik.

Dalam hidup ini sering kita kurang sabar dalam menyikapi suatu permasalahan dan membuat keputusan yang salah dan bahkan sangat fatal. Misalnya dalam relasi dengan orang lain, dalam pekerjaan dan segala sesuatu yang sedang kita kerjakan sering terlihat/terasa kurang sejalan dengan apa yang kita harapkan.


Padahal kita sudah mengeluarkan segala daya upaya agar apa yang kita lakukan berhasil sesuai dengan harapan, baik itu tenaga, pikiran, waktu bahkan harta benda telah kita korbankan. Tetapi kita selalu diliputi rasa kuatir, dan buru-buru menyimpulkan bahwa apa yang kita lakukan adalah sia-sia saja, takut kegagalan akan terulang lagi, sehingga memutuskan untuk mengakhiri apa yang sedang kita kerjakan. Kita tidak mau bersabar, kita putus harapan, kita tidak mau menunggu hasil yang luar biasa yang mungkin saja akan segera kita raih.


Sesuatu yang kita kerjakan mungkin pada awalnya terasa tidak nyaman, tidak enak, tidak sesuai harapan, tetapi percayalah jika bersandar pada Tuhan, kita boleh berharap hasilnya akan memuaskan kita!!


Ternyata menunggu itu ………lama ya….dan …….tak enak…?!

Tapi …. hasilnya dari menunggu di dalam Tuhan pasti menyenangkan!!

Amin.

Jumat, 05 September 2008

Pilkada, Pemilu …. kok memilukan!!

Akhir-akhir ini di Indonesia sedang marak diselenggarakan Pemilihan Kepala Daerah dan tahun depan aka nada Pemilu.

Kalau dulu pemilihan langsung oleh rakyat hanya dilakukan oleh masyarakat desa dalam menentukan Kepala Desanya.

Mungkin pemikiran diadakannya pemilihan langsung oleh rakyat ini didasarkan atas teori demokrasi itu datangnya langsung dari rakyat dilakukan oleh rakyat dan hasilnya untuk rakyat itu sendiri.Tetapi ada juga yang sebenarnya menentang hal itu, karena Indonesia sebenarnya menganut asas demokrasi melalui perwakilan (sila keempat Pancasila).

Ironisnya demokrasi secara langsung itu secara kenyataannya justru banyak terjadi penyimpangan, mulai dari pengerahan masa yang dapat berakibat konflik sampai dengan kecurangan-kecurangan bahkan bukan rahasia lagi terjadi ‘money politic’.

Setiap calon yang ‘berlaga’ di ajang Pilkada berusaha memenangkan kedudukan itu dengan berbagai cara, bahkan cara-cara negatifpun mereka lakukan.

Ada satu tayangan TV beberapa waktu lalu yang menarik bagi saya, para elit politik kita yang sebenarnya orang-orang berpendidikan dan mengaku bergama, ternyata menggunakan bantuan dukun (paranormal) dan kekuatan jahat tentunya. Bahkan para dukun itu dengan sombongnya menyatakan banyak pasiennya yang berhasil meraih jabatan itu.

Dalam hati saya berpikir bagaimana jadinya jika mereka menang, apakah mereka tidak meminta tumbal atas terpilihnya jadi pejabat?

Kita sebagai orang Kristen sepatutnya merasa prihatin dengan kondisi demikian ini, bagaimana negeri ini dapat diberkati Tuhan jika ternyata para pemimpin kita begitu jahat di mataNYA. Karena itu marilah kita memerdekakan bangsa ini secara rohani, satu langkah kecil dapat kita awali dengan berdoa agar pemerintahan kita bersih dari praktek-praktek perdukunan karena itu adalah salah satu penghalang berkat Tuhan bagi Indonesia.

Sudahkah Anda berdoa bagi bangsa ini?
Sudahkah Anda berdoa bagi pemerintah?
Sudahkah Anda berdoa bagi para pejabat di pusat sampai di daerah di mana Anda tinggal?

Kemerdekan rohani bangsa ini juga merupakan tanggung jawab kita orang Kristen.
Doakanlah.